Dalam Al-Qur’an, ada sebuah kisah menarik tentang seseorang yang kecewa dan bagaimana akhirnya. Ingatlah akan kisah Dzunnun (sahabat ikan) yakni nabi Yunus A.S. dijuluki demikian disebabkan ia dikurung Allah SWT dalam ikan paus atas kesalahannya. Ia kecewa pada kaum yang tidak mengikuti seruan. Lalu dengan rasa marah lagi kecewa, ia pergi meninggalkan kaumnya yang membangkang tanpa seizin Allah SWT.
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS Al-Anbiya’ [21]: 87)
Merasa kecewa itu wajar dan biasa. Hal baiknya jika meneluri asal muasal kecewa, akan ditemukan adanya kecewa berarti adanya cinta disana. Kecewa itu hadir karena harapan cinta yang tidak terpenuhi atau pupus ditengah jalan. Oleh karena kecewa itu hadir dikarena cinta, maka menyelesaikannya pun dengan cinta jua. Bukan dengan marah bahkan menjauhi objek yang mengecewakan kita.
Saat kita yang kecewa ini berpaling padanya, dirimu tinggalkannya, bahkan pergi tak kembali, itu berarti membiarkan hati dan raganya dalam keadaan merana. Merana baik sadar maupun tak sadar oleh ia. Hingga semakin jauhlah nilai-nilai kebaikan. Semakin tiada lagi yang mengingatkan untuk kesalahan yang diperbuat.
Sebagai teman yang telah selama ini sesakit dan sesenangnya dalam menghadapi perjuangan kehidupan, jangan sampai kecewa membakar habis cinta kita pada teman itu. Sehingga kita pergi meninggalkannya, Hadapilah kecewa itu lewat mantera cinta yang disebut sabar dan ikhlas. Memang telah dirimu utarakan nasehat padanya sejuta kali, namun ia tidak juga berubah. Maka hadapilah dengan sabar. Bisa jadi nasehatmu yang ke sejuta satu akan meluluhkan hatinya.
Perluruslah kembali niatmu atas dasar apa engkau berteman dengan dirinya. Dan sebaik-baik pertemanan itu adalah teman atas dasar karena Allah SWT, pertemanan untuk tolong menolong dalam kebaikan. Maka pertinggikanlah pilar-pilar niat keikhlasan lagi, agar rasa persahabatan itu itu tak tersentuh kobaran api kecewamu. Dan terakhir, ikat simpulkanlah pertemananmu itu dihati dengan doa. Doa untuk mereka agar tersadar. Doa untuk pertemanan itu tidak terkoyakan lagi terpisahkan. Karena doa adalah sebuah harapan yang bisa mengubah takdir dengan seizin Allah. Karena harapan itu masih ada untuk perubahan yang lebih baik.
9:58:00 AM
izzul arifi
Posted in: