2011/08/23

TetesOase#003 - Bisa Jadi Dia Mengecewakanmu tapi Hapuslah Air Mata Kecewamu dengan Cinta

Kadang kita merasa ingin keluar dari sebuah organisasi karena kecewa dengan orang-orang didalamnya yang tidak sevisi dengan kita. Kadang kita merasa ingin marah pada seseorang karena kecewa dengan dirinya telah melakukan kesalahan pada kita. Kadang kita merasa ingin berpaling pada teman seperjuangan kita karena telah ada fitnah tentangnya yang mengecewakan kita.

Dalam Al-Qur’an, ada sebuah kisah menarik tentang seseorang yang kecewa dan bagaimana akhirnya. Ingatlah akan kisah Dzunnun  (sahabat ikan) yakni nabi Yunus A.S. dijuluki demikian disebabkan ia dikurung Allah SWT dalam ikan paus atas kesalahannya. Ia kecewa pada kaum yang tidak mengikuti seruan. Lalu dengan rasa marah lagi kecewa, ia pergi meninggalkan kaumnya yang membangkang tanpa seizin Allah SWT.

 “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS Al-Anbiya’ [21]: 87)

Merasa kecewa itu wajar dan biasa. Hal baiknya jika meneluri asal muasal kecewa, akan ditemukan adanya kecewa berarti adanya cinta disana. Kecewa itu hadir karena harapan cinta yang tidak terpenuhi  atau pupus ditengah jalan. Oleh karena kecewa itu hadir dikarena cinta, maka menyelesaikannya pun dengan cinta jua. Bukan dengan marah bahkan menjauhi objek yang mengecewakan kita.

Saat kita yang kecewa ini berpaling padanya, dirimu tinggalkannya, bahkan pergi tak kembali,
itu berarti membiarkan hati dan raganya dalam keadaan merana. Merana baik sadar maupun tak sadar oleh ia. Hingga semakin jauhlah nilai-nilai kebaikan. Semakin tiada lagi yang mengingatkan untuk kesalahan yang diperbuat.

Sebagai teman yang telah selama ini sesakit dan sesenangnya dalam menghadapi perjuangan kehidupan, jangan sampai kecewa membakar habis cinta kita pada teman itu. Sehingga kita pergi meninggalkannya, Hadapilah kecewa itu lewat mantera cinta yang disebut sabar dan ikhlas. Memang telah dirimu utarakan nasehat padanya sejuta kali, namun ia tidak juga berubah. Maka hadapilah dengan sabar. Bisa jadi nasehatmu yang ke sejuta satu akan meluluhkan hatinya.

Perluruslah kembali niatmu atas dasar apa engkau berteman dengan dirinya. Dan sebaik-baik pertemanan itu adalah teman atas dasar karena Allah SWT, pertemanan untuk tolong menolong dalam kebaikan. Maka pertinggikanlah pilar-pilar niat keikhlasan lagi, agar rasa persahabatan itu itu tak tersentuh kobaran api kecewamu. Dan terakhir, ikat simpulkanlah pertemananmu itu dihati dengan doa. Doa untuk  mereka agar tersadar. Doa untuk pertemanan itu tidak terkoyakan lagi terpisahkan. Karena doa adalah sebuah harapan yang bisa mengubah takdir dengan seizin Allah. Karena harapan itu masih ada untuk perubahan yang lebih baik.

2011/05/28

TetesOase#002 - ketika sang murabbi mengali cinta pada orang tua

Dalam menit-menit pertama, bertubi-tubi hikmah yang dikirimkan dalam film Sang Murabbi(3). Tak seperti film kebanyakan sekarang yang sungguh begitu banyak mengumbar humor yang mencela fisik orang lain dan aurat digembar gemborkan tapi minim aspek intisari hikmah didalamnya. Sang Murabbi, film yang diangkat dari kehidupan seorang ustadz Rahmat Abdullah, dengan durasi 93 menit ini saja menyimpan berbagai hikmah laksana buku-buku yang tersusun diperpustakaan.
Dari bagian film tesebut ada hal yang menarik untuk dibawah ketengah pembicaraan. Pada screen bagian awal, kita akan melihat bagaimana Ustadz Rahmat Abdullah sungguh besar keinginannya untuk pergi berangkat ke Mesir guna menimba ilmu. Suatu kali beliau mendapat kesempatan untuk belajar ke sana.

 
Ketika diberitahukan gurunya, Rahmat Abdulllah mengucapkan rasa puji dan syukurnya kepada Allah SWT atas kesempatan untuk bisa studi ke Mesir
Akan tetapi, karena sang Ibunda berat melepaskannya pergi jauh merantau belajar ke Mesir, ia pun mengurungkan hasratnya yang mengebu-gebu itu.

“lagian kalo lo pergi jauh, ntar ibuk kangen bagaimana dong?” kata Ibunda Rahmat Abdullah berat hati melepaskan anaknya.
Mendengarkan curhatan ibundanya yang susah sekali melepaskan.
Mendengarkan nasehat gurunya, meski tidak melanjutkan studi ke Mesir, janganlah meyerah karena dimanapun kita berada kita merupakan dai yang siap meyebarkan benih-benih kejayaan Islam.

Seringkali kita bagaikan ikan dilautan yang mencari air tanpa sadar sekelilingnya adalah air. Kita mencari bagaimana bentuk cinta itu padahal sekeliling kita telah dihiasi oleh cinta itu sendiri. Salah satunya cinta dari kedua orang tua kita yang aliran cinta tak henti bagai mentari yang menyinari cahaya.
Mungkinkah seseorang berbicara dan mengekspesikan cinta yang suci sedang ia tidak peduli akan ibu bapaknya yang telah memberikan cinta setulus hati tanpa pamrih? Tentu saja itu mustahil. Sangatlah penting bagi seorang mukmin agar

2011/04/23

TetesOase#001 - Untuk Sebuah Semangat Perjuangan


Bismillahirrahmanirrahim.
Wahai  para muslimin, yang dirahmati Allah SWT dengan segala kemuliaan semenjak subuh sedari tadi hingga subuh kelak kemudian. Itu semua Allah SWT hidupkan dalam setiap hati sanubari yang tetap berpegah teguh pada jalan keberan.
Wahai para muslimin, wahai para pejuang kebenaran, wahai para aktivis yang darahnya selalu bergejolak.
Seandainya berandai-andai, jikalau pada dirimu diberikan sebuah daerah ataupun sebuah negeri, negeri dengan lingkungan yang bisa dideskripsikan tidak panas terlalu dan tidak pula dingin terlalu. Tidak manis yang terlalu dan tidak pula dengan pahit terlalu. Ia tidak gelap gulita yang terlalu dan tidak terang benderang terlalu. Dan negeri ini, wahai muslimin, tenang dan nyaman serta tidak ada yang perlu kita keluh kesahkan
Apakah daerah ini yang diinginkan oleh dirimu untuk menempati negeri  tersebut? Apakah negeri itu ingin dirimu untuk memilikinya?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3