Dari bagian film tesebut ada hal yang menarik untuk dibawah ketengah pembicaraan. Pada screen bagian awal, kita akan melihat bagaimana Ustadz Rahmat Abdullah sungguh besar keinginannya untuk pergi berangkat ke Mesir guna menimba ilmu. Suatu kali beliau mendapat kesempatan untuk belajar ke sana.
|
| Ketika diberitahukan gurunya, Rahmat Abdulllah mengucapkan rasa puji dan syukurnya kepada Allah SWT atas kesempatan untuk bisa studi ke Mesir |
![]() |
| “lagian kalo lo pergi jauh, ntar ibuk kangen bagaimana dong?” kata Ibunda Rahmat Abdullah berat hati melepaskan anaknya. |
![]() |
| Mendengarkan curhatan ibundanya yang susah sekali melepaskan. |
![]() |
| Mendengarkan nasehat gurunya, meski tidak melanjutkan studi ke Mesir, janganlah meyerah karena dimanapun kita berada kita merupakan dai yang siap meyebarkan benih-benih kejayaan Islam. |
Seringkali kita bagaikan ikan dilautan yang mencari air tanpa sadar sekelilingnya adalah air. Kita mencari bagaimana bentuk cinta itu padahal sekeliling kita telah dihiasi oleh cinta itu sendiri. Salah satunya cinta dari kedua orang tua kita yang aliran cinta tak henti bagai mentari yang menyinari cahaya.
Mungkinkah seseorang berbicara dan mengekspesikan cinta yang suci sedang ia tidak peduli akan ibu bapaknya yang telah memberikan cinta setulus hati tanpa pamrih? Tentu saja
itu mustahil. Sangatlah penting bagi seorang mukmin agar
12:42:00 AM
izzul arifi



Posted in: